{"id":189,"date":"2022-12-13T03:43:04","date_gmt":"2022-12-13T03:43:04","guid":{"rendered":"http:\/\/yakparpem.org\/cms\/?p=189"},"modified":"2022-12-13T05:30:34","modified_gmt":"2022-12-13T05:30:34","slug":"pertukaran-proses-pembelajaran-terbaik-yayasan-ate-keleng-gereja-batak-karo-protestan-yak-gbkp-dan-rural-develeopment-inter-diocesan-service-rdis-gereja-anglikan-rwanda","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/yakparpem.org\/cms\/?p=189","title":{"rendered":"Pertukaran Proses Pembelajaran Terbaik &#8211; YAYASAN ATE KELENG GEREJA BATAK KARO PROTESTAN (YAK GBKP) dan RURAL DEVELEOPMENT INTER DIOCESAN SERVICE (RDIS) GEREJA ANGLIKAN RWANDA"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-color has-small-font-size has-very-dark-gray-color\"><strong>YAK GBKP danRDIS <\/strong><a><strong>bersama-sama<\/strong><\/a><strong> membahas program pemberdayaan masyarakat melalui pengorganisasian atas inisiatif masyarakat tersebut dengan pintu masuk Credit Union (CU) khususnya di pedesaan. Strategi CUdipersembahkan untuk lima Keuskupan Gereja Anglikan di Rwanda, yaitu: BUTARE, CYANGUGU, KIGEME, NYARUGURU dan SHYOGWE. Tujuan menyeluruh dari kerja sama ini adalah untuk memberdayakan masyarakat dalam kontekspelayanan di Rwanda dan di Indonesia agar masyarakat mandiri dan mampu meningkatkan kesejahteraan Spiritual, Sosial, Ekonomi dan Lingkungan mereka secara berkelanjutan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/yakparpem.org\/cms\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/01-1024x576.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-190\" srcset=\"http:\/\/yakparpem.org\/cms\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/01-1024x576.png 1024w, http:\/\/yakparpem.org\/cms\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/01-300x169.png 300w, http:\/\/yakparpem.org\/cms\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/01-768x432.png 768w, http:\/\/yakparpem.org\/cms\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/01.png 1280w\" sizes=\"(max-width: 767px) 89vw, (max-width: 1000px) 54vw, (max-width: 1071px) 543px, 580px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Pengalaman GBKP melalui pelayanan yang dilaksanakan oleh Pelpem, Deparpem, Biro Parpem, dan terakhir dengan nama Yayasan Ate Keleng GBKP telah memulai kiprah pelayanan sejak tahun 1971-1972 dan kemudian diterima sebagai sebuah unit pelayanan di GBKP tahun 1974-1975. Bentuk pelayanan yang dilakukan pada saat itu adalah pelayanan dengan pendekatan partisipatif dalam bidang pertanian dan pembangunan infrastruktur melalui program padat\/palas karya. Pelopor pengagas, pemikir dan pelaksana dari pelayanan pemberdayaan masyarakat ini adalah Pdt. Selamat Barus dalam bidang pertanian dan pengorganisasian masyarakat, Pdt. Borong Tarigan sebagai pelaksana pembangunan infrastruktur di pedesaan dengan strategi palas karya seperti pembangunan Saran Air Minum (SAM) dan Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hydro (PLTMH) serta keuangan mikro. Pdt. Borong Tarigan dan Pdt. Selamat Barus memikirkan strategi keberlanjutan karya-karya pembangunan atas partisipasi masyarakat dalam meningkatkan kualitas kehidupan, sehingga tercetuslah ide pengorganisasin masyarakat dengan pintu masuk CU. Tujuan CU adalah sebagai pintu masuk untuk melaksanakan program-program pemberdayaan masyarakat. Sebelumnya keinginan kedua tokoh ini adalah mendirikan Bank milik Rakyat seperti Bank orang Miskin ala Muhamad Yunus di Bangladesh. Namun, karena sulitnya mendirikan Bank akibat peraturan pemerintah, akhirnya didirikan CU sebagai bakal BPR. Mimpi mendirikan Bank akhirnya terwujud saat didaftarkannya Yayasan Ate Keleng GBKP sebagai bakal pemilik pada tahun 1988. BPR Pijer Podi Kekelengen (BPR PPK) resmi berdiri pada tahun 1993 dengan modal awal puluhan juta. Puji Tuhan, saat ini CU dan BPR PPK secara bersama-sama bertumbuh, berkembang serta mampu mengubah kondisi kehidupan masyarakat penerima manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/yakparpem.org\/cms\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/02-1024x768.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-191\" srcset=\"http:\/\/yakparpem.org\/cms\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/02-1024x768.png 1024w, http:\/\/yakparpem.org\/cms\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/02-300x225.png 300w, http:\/\/yakparpem.org\/cms\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/02-768x576.png 768w, http:\/\/yakparpem.org\/cms\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/02.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 767px) 89vw, (max-width: 1000px) 54vw, (max-width: 1071px) 543px, 580px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p> Pengalaman itulah <strong>proses pembelajaran terbaik<\/strong> yang disharingkan pada pertemuan ini. Proses yang sulit namun karena kegigihan dan konsistensi para penggagas tersebut, akhirnya mimpi jadi kenyataan. Bahkan yang terjadi lebih dari yang diimpikan. Menjadikan CU sebagai <em>entry point<\/em> pemberdayaan masyarakat menjadi sangat menarik karena kebanyakan orang di Indonesia dan begitu juga di Rwanda memahami CU sebagai kegiatan yang hanya mengumpulkan uang layaknya bank atau koperasi. Padahal Bank berdiri dengan otoritas penuh oleh pemerintah dan koperasi berdiri atas otorisasi lembaga di mana anggotanya bekerja. Tapi CU berdiri atas otorisasi seluruh anggotanya. CU adalah tentang orang yang mengaku percaya satu sama lain, bukan hanya tentang uang. YAK GBKP menyampaikan bahwa CU itu arti sesungguhnya berasal dari 2 kata pembentuknya yaitu \u201ccredo\u201d yang artinya <strong>aku percaya<\/strong> dan \u201cunion\u201d yang artinya <strong>persatuan\/persekutuan<\/strong>. Credit Union artinya persekutuan\/persatuan orang yang saling mengaku percaya. Pesekutuan ini adalah tentang kerjasama, kekeluargaan, persekutuan yang kuat, dan solidaritas berdasarkan kepercayaan setiap anggotanya. Ini tentang kesejahteraan bersama. Tujuannya untuk mengurangi kemiskinan dan menyelesaikan kesenjangan di dalam sebuah wilayah yang saat ini merupakan goals SDG yang ke-10. Kegiatan simpan pinjam di dalam CU hanyalah satu bagian kecil saja. Ada begitu banyak kegiatan lain di dalam CU yaitu pertanian selaras alam, peternakan, perikanan, pembuatan PERDES perlindungan lingkungan, PERDES perlindungan Kelompok marginal, permakultur (membangun 5 zona sebagai ruang kehidupan permanen), pemasaran produk organic, budidaya kopi organic, membangun kekritisan masyarakat untuk melakukan analisis sosial dan penggunaan anggaran desa, pendampingan kelompok sebaya ODHA, kelompok politik perempuan, mendampingi korban bencana dan korban mafia tanah, serta banyak lagi kegiatan lain dalam CU. Jadi CU adalah \u201cpintu masuk\u201d untuk memfasilitasi rakyat agar kesadaran dan pengetahuannya bertambah. Berbagai penguatan melalui pendidikan dan pelatihan dilakukan agar mampu mersepon isu-isu penting di konteks kehidupannya. Dengan berdayanya warga, maka diharapkan mereka mampu memperjuangkan hak sipol ekosob serta lingkungan mereka sehingga terwujudlah masyarakat mandiri yang berdaulat, berkeadilan dan damai sejahtera. &nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/yakparpem.org\/cms\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/03-1024x576.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-192\" srcset=\"http:\/\/yakparpem.org\/cms\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/03-1024x576.png 1024w, http:\/\/yakparpem.org\/cms\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/03-300x169.png 300w, http:\/\/yakparpem.org\/cms\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/03-768x432.png 768w, http:\/\/yakparpem.org\/cms\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/03.png 1280w\" sizes=\"(max-width: 767px) 89vw, (max-width: 1000px) 54vw, (max-width: 1071px) 543px, 580px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Dalam beberapa pertemuan penting: Board of Director RDIS Meeting sekaligus Retret Para Bishop, Rt. Rev. Dr. KALIMBA, Jered yang merupakan Bishop Keuskupan Shyogwe dan pada saat yang sama juga disampaikan kepada perwakilan dari RDIS beserta Ketua Pengurus RDIS (Eksekutif), beliau mengajak peserta secara aktif&nbsp; memberi perhatian dan tidak pernah berhenti atau diam. Sebaliknya kata beliau \u201cberikanlah pemikiran, dan carilah cara tertentu agar organisasi \u201cRDIS\u201d secara lembaga tetap mampu terjaga dan untuk itu semua membutuhkan keterlibatan secara bersama-sama seluruh keluarga besar RDIS. Bishop Jered dalam khotbahnya menggarisbawahi pentingnya persatuan yang diterangi oleh Firman Tuhan yang diangkat menjadi dasar khotbah yaitu Kejadian 11: 1-9 &#8220;Menara Babel&#8221;. &nbsp;Sekarang seluruh bumi memiliki satu bahasa dan kata-kata yang sama. Ia mengajak peserta pada kedua pertemuan itu untuk tetap setia, berjalan dan bekerja dengan tuntunan Tuhan agar organisasi RDIS dapat melangkah maju. Dia berkata \u201cperayaan atas apa yang telah kita capai seharusnya tidak membuat kita puas, sebaliknya kita perlu bergerak maju dan membuat pencapaian yang lebih besar lagi. Tujuan kita bukanlah untuk menjadi menjadi terkenal, melainkan memastikan bahwa apa yang kita telah capai adalah semata-mata karena anugerah Tuhan. Bishop berterima kasih kepada Tuhan yang telah membawa kembali apa yang hilang selama ini. Dalam Kisah Rasul 2:4, mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa lain ketika Roh memampukan mereka. Pada hari Pentakosta, orang-orang yang tidak dapat memahami satu sama lain mengalami kembali apa yang hilang di Menara Babel \u201cbaik orang Yahudi maupun orang yang bukan Yahudi; orang Kreta dan Arab, mereka berkata \u201cKami mendengar mereka mendeklarasikan keajaiban Tuhan dalam bahasa kami sendiri!\u201d Mereka kagum dan bingung, mereka bertanya satu sama lain, \u201cApakah artinya ini?\u201d Kis 2:11. Bishop mengucap syukur dan berterima kasih kepada Tuhan atas Persatuan yang ada dalam Lima Diocese yang berdiri untuk mewakili anggota Keuskupan masing-masing untuk mendukung pelayanan RDIS dan meminta setiap peserta untuk berjuang mewujudkan kemakmuran bersama.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/yakparpem.org\/cms\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/04-1-1024x768.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-194\" srcset=\"http:\/\/yakparpem.org\/cms\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/04-1-1024x768.png 1024w, http:\/\/yakparpem.org\/cms\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/04-1-300x225.png 300w, http:\/\/yakparpem.org\/cms\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/04-1-768x576.png 768w, http:\/\/yakparpem.org\/cms\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/04-1.png 1156w\" sizes=\"(max-width: 767px) 89vw, (max-width: 1000px) 54vw, (max-width: 1071px) 543px, 580px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>YAK GBKP dan RDIS mengadakan\nperjanjian kerjasama dimulai pada tahun\n2019. Direktur Kedua Lembaga bertemu selama Program Internasional Master of Art Diakonia Manajemen (IMADM)\nyang diprakarsai oleh United Evangelical Mission (UEM).\nKemitraan kemudian diperluas menjadi kerjasama kedua Gereja yaitu: Gereja\nAnglikan Rwanda-Keuskupan SHYOGWE\ndengan GEREJA BATAK KARO PROTESTANT (GBKP)\ndari Indonesia-Sumatera Utara yang bersama-sama\nmenandatangani MoU pada momen General Asembly UEM tahun 2022 di Jerman yang\ndifasilitasi oleh UEM. Kemitraan antara kedua Gereja dan lembaga ini\nbertujuan untuk: berbagi proses pembelajaran terbaik dan belajar satu sama\nlain. Saling menopang dalam menjaga institusi dan\nGereja, bekerjasama dengan meniru bagian praktek terbaik\ndari masing-masing lembaga, kemudian dikontekstualkan pada masing-masing lembaga dan insitusi untuk merespons kebutuhan konteks di mana lembaga dan\ninstitusi berada.<\/p>\n\n\n\n<p>Situasi jemaat di lingkup pelayanan Gereja Anglikan\nRwanda, secara khusus yang dihadapi oleh RDIS, fokus di masyarakat pedesaan\nyang sebagian besar pekerjaan masyarakatnya adalah petani dengan kondisi\nekonomi yang sulit. Rasio gini (tingkat kesenjangan) di Rwanda sekitar 43,7\n(data resmi nasional 2016). Ini menandakan jarak antara penduduk kaya dan\nmiskin sangat jauh. Sebagai perbandingan, Indonesia saat ini di poin 38. &nbsp;Masyarakat mengalami kesulitan karena harga\nproduk pertanian sangat murah (akibat monopoli pasar), padahal sumber daya alam\ndan manusia sangat kaya dan besar. Sangat perlu menciptakan gerakan ekonomi\nalternatif yang bisa menjaga harga produk pertanian tersebut. Di sisi lain,\nbanyak masyarakat di akar rumput tidak memperoleh pendidikan yang memadai\nsehingga menjadi tidak memiliki kreatifitas untuk mengelola sumberdaya yang\nada. Kesadaran untuk merespon perubahan iklim juga rendah dan masyarakat masih\ntergantung kepada penggunaan kayu bakar untuk melakukan aktifitas harian. Ini\nsangat mengancam kelestarian hutan dan bencana longsor akibat penebangan pohon\nyang tidak terkontrol, karena kondisi tanah di Rwanda sebagian besar adalah\nperbukitan. Rwanda terkenal dengan sebutan <em>thousand hills country<\/em>. Masyarakat\ndi <em>grass root<\/em> juga kadang terpaksa merelakan anak-anak mereka bekerja di\ntambang mineral karena tidak memiliki pendidikan. Padahal upah buruh di sini\nsangat murah dan risiko bekerja di tambang sangat tinggi. Menurut keterangan\ndirektur eksekutif RDIS, banyak pemuda yang bekerja ditambang menjadi korban di\nkegiatan tambang (meninggal dunia). Ini bisa mengancam generasi di Rwanda. Kondisi\ninilah yang ingin dijawab oleh pelayanan RDIS dan strategi pengorganisasian\nmasyarakat (CU), berdasarkan kosep dan prinsifnya dirasa sesuai dengan sebagai\npintu masuknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk\nmaksud tersebut, Pdt Yusuf Tarigan (Direktur Eksekutif YAYASAN ATE KELENG GBKP) bersama Leader Tarigan (staf dari Divisi Lingkungan sekaligus konsultan\ninfrastruktur YAK GBKP) berkunjung ke RDIS dengan tujuan berbagi\npengalaman mengenai program pemberdayaan masyarakat, khususnya\nbagaimana suka-duka dalam pendirian CU dalam\nkonteks YAYASAN ATE KELENG GBKP Sumatera\nUtara. Secara strategis, hal tersebut\ndilakukan untuk\nmeningkatkan kesadaran para pembuat\nkeputusan di RDIS melalui: <\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Pertemuan\ndengan Koordinator Project RDIS, 28 November 2022<\/li><li>Rapat Board of Director (Pengurus) RDIS, 30 November 2022<\/li><li>Pertemuan dengan Para\nBishop Gereja Anglikan dari Butare, Cyangugu, Kigeme, Nyaruguru dan Shyogwe Diocese, bersama\ndengan Direktur Eksekutif RDIS, 01 Desember 2022<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Selanjutnya,\nkedua Direktur Eksekutif (Rev. Yusuf\nTarigan dan Pastor NTARINDWA Viateur) \u2013 yang adalah anggota International Community of\nDiaconic Management (ICDM) \u2013 berbagi\npengalaman dalam hal &nbsp;Kepemimpinan dan Manajemen di institusi\nmasing-masing untuk saling belajar lebih banyak dan meningkatkan beberapa hal yang perlu\ndioptimisasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengalaman yang dibagikan oleh Pdt\nYusuf Tarigan kepada badan pembuat keputusan RDIS sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>Pengenalan\ndiri sendiri, keluarga, pendidikan formal dan informasi tentang pengalaman pelayanan pentingnya analisis sosial.<\/li><li>Penjelasan\nawal tentang pentingnya gerakan ekonomi berbasis komunitas, panggilan berdiakonia berdasarkan refleksi mendalam\nteks Lukas 4:18-19 dan Matius 25:40 serta Masmur 112:5.<\/li><li>Sejarah\nCredit Union (CU): Gerakan Credit Union, Ide awal Credit Union serta prinsip dan nilai-nilai.<\/li><li>CU\nsebagai Alternatif Gerakan\nEkonomi, alasan memilih\nCU; manfaat bagi masyarakat miskin perkotaan dan pedesaan serta lima pilar CU.<\/li><li>Langkah-langkah mendirikan dan memulai gerakan\nCU: organisasi,\nadministrasi, pembukuan dan pengembangan teknologi yang membantu credit union\ntumbuh secara inovatif<\/li><li>Gerakan\nCU dan keberlanjutan YAK GBKP:\npenjelasan singkat tentang kemajuan yang dicapai oleh CU, kontribusi keuangannya yang mesupport perlayanan YAK GBKP.<\/li><li>Hambatan\ndan Solusi dalam\nGerakan CU.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Gerakan CU\nsangat potensial untuk memutus mata rantai ketergantungan lembaga seperti YAK\nGBKP pada pendonor (donatur). Untuk itu perlu sebuah sistim atau konsep yang\nbaru sebagai standard seperti NIFEA (<em>new international on financial and\neconomic architecture<\/em>). Kegiatan ini juga merupakan RTL dari GEMS School\n2022 di Berlin yang diikuti oleh Direktur YAK GBKP. Suatu saat nanti YAK GBKPlah\nyang diharapkan sebagai pendonor untuk mendukung program pemberdayaan\nmasyarakat di berbagai negara.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/yakparpem.org\/cms\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/05-1024x576.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-195\" srcset=\"http:\/\/yakparpem.org\/cms\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/05-1024x576.png 1024w, http:\/\/yakparpem.org\/cms\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/05-300x169.png 300w, http:\/\/yakparpem.org\/cms\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/05-768x432.png 768w, http:\/\/yakparpem.org\/cms\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/05-1536x864.png 1536w, http:\/\/yakparpem.org\/cms\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/05.png 1600w\" sizes=\"(max-width: 767px) 89vw, (max-width: 1000px) 54vw, (max-width: 1071px) 543px, 580px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><em>Sorotan <\/em><\/strong><strong><em>dan D<\/em><\/strong><strong><em>iskusi:<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pdt. Yusuf Tarigan menyoroti alasan-alasan khusus untuk\nmendirikan CU karena\nsudah terbukti sukses membawa perubahan di tengah-tengah masyarakat, antara\nlain:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Bebas dari dibodohi dan dimiskinkan yang disebabkan oleh banyak hal.<\/li><li>Mengatasi kesulitan Ekonomi di masyarakat miskin desa\ntertinggal dan miskin kota<\/li><li>Membebaskan diri dari sistem kapitalis (Bank) yang hanya tertarik pada keuntungan sebesar-besarnya<\/li><li>Meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi rumah tangga\nanggota<\/li><li>Modal dibentuk bersama\ndan dipinjamkan\nsecara bergilir sehingga terbentuk sistim keuangan yang kuat dan berkelanjutan<\/li><li>Menjadi pemilik lembaga keuangan sendiri<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p class=\"has-text-color has-vivid-cyan-blue-color\"><strong>Pilar\nCredit Union<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Credit Union berawal dari <strong>Pendidikan <\/strong>, bertumbuh dengan\n<strong>Pendidikan<\/strong>,\nberkembang dengan <strong>Pendidikan, <\/strong>dan\ntergantung pada <strong>Pendidikan\n<\/strong>(formal dan informal). Pendidikan adalah nafas CU. <strong>Keman<\/strong><strong>diri<\/strong><strong>an<\/strong>:\nCU berasal dari anggota, dikelola oleh anggota dan untuk anggota. <strong>Solidaritas<\/strong>: Semua anggota CU harus mengedepankan nilai-nilai\nkebersamaan dengan MOTTO: Anda butuh saya\nbantu; saya butuh anda bantu. <strong>Inovasi<\/strong>: Inovasi diperlukan sebagai jalan menuju kemajuan\nberkelanjutan untuk lebih memenuhi tuntutan zaman. <strong>Persekutuan: <\/strong>adalah\njaringan bersama kelompok-kelompok CU, sehingga ada kekuatan bersama yang lebih\nbesar, mutualis dan produktif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-color has-vivid-cyan-blue-color\"><strong>Reaksi\ndan umpan balik <\/strong><strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dari pertemuan pertama dengan para Koordinator\nProject\nRDIS; kemudian rapat dengan Pengurus RDIS;\nserta Retret\nPara\nBishop\nGereja Anglikan Rwanda\nyang meliputi Keuskupan Butare, Cyangugu, Kigeme, Nyaruguru dan Shyogwe\nsebagai pendiri dan anggota organisasi RDIS bersama Direktur Eksekutif RDIS\nyang secara berurutan diadakan di Desa Kivumu, Gitarama, Sektor Nyamabuye\ndi Distrik Muhanga dan di kantor RDIS, ditegaskan\nsebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Kami siap\nmemulai dan menjalankan CU\ndengan dan untuk anggota kelompok di lima Keuskupan kami.<\/li><li>Kami berkomitmen untuk melanjutkan proses tersebut, menyusun\ndraf kepemimpinan dan manajemen yang diperlukan; alat mobilisasi\ndan kebutuhan\nlainnya; studi tour ke SACCOS dan lembaga keuangan terdekat yang sukses, dan kami akan memulainya pada awal\ntahun 2023.<\/li><li>Kami berkomitmen untuk meminta persetujuan dari Bank\nNasional Rwanda atau Badan Koperasi Rwanda untuk melangkah membangun\nkomitmen para anggota dan keseriusan membangun institusi keuangan yang legal\nsebagai bagian dari kegiatan CU.<\/li><li>Kami mengakui, menghargai dan berkomitmen untuk melanjutkan kerjasama melekat dengan YAK GBKP\nuntuk lebih siap memulai SACCOS dalam konteks Rwanda (mirip dengan CU dalam\nKonteks YAK GBKP, Indonesia) atau lembaga keuangan. Studi lebih lanjut untuk\nmengetahui apa yang bisa diterapkan, realisasikan dan dijangkau\noleh anggota kelompok di\nLima Keuskupan: BUTARE, CYANGUGU, KIGEME, NYARUGURU dan SHYOGWE serta RDIS\ndalam Konteks Rwanda. <\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Komitmen ini\nakan dilakukan mulai Januari 2023. <\/p>\n\n\n\n<p>Tuhan\nmemberkati komitmen ini, memberkati kedua institusi dan kedua gereja.<\/p>\n\n\n\n<p>SOLI DEO\nGLORIA<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-right has-small-font-size\"><strong><em>Hendrik Ziemann, Pastor Viateur Ntarindwa dan\nPdt.&nbsp;Yusuf&nbsp;Tarigan<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>YAK GBKP danRDIS bersama-sama membahas program pemberdayaan masyarakat melalui pengorganisasian atas inisiatif masyarakat tersebut dengan pintu masuk Credit Union (CU) khususnya di pedesaan. Strategi CUdipersembahkan untuk lima Keuskupan Gereja Anglikan di Rwanda, yaitu: BUTARE, CYANGUGU, KIGEME, NYARUGURU dan SHYOGWE. Tujuan menyeluruh dari kerja sama ini adalah untuk memberdayakan masyarakat dalam kontekspelayanan di Rwanda dan di &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"http:\/\/yakparpem.org\/cms\/?p=189\" class=\"more-link\">Lanjutkan membaca<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Pertukaran Proses Pembelajaran Terbaik &#8211; YAYASAN ATE KELENG GEREJA BATAK KARO PROTESTAN (YAK GBKP) dan RURAL DEVELEOPMENT INTER DIOCESAN SERVICE (RDIS) GEREJA ANGLIKAN RWANDA&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":197,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-189","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/yakparpem.org\/cms\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/189"}],"collection":[{"href":"http:\/\/yakparpem.org\/cms\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/yakparpem.org\/cms\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/yakparpem.org\/cms\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/yakparpem.org\/cms\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=189"}],"version-history":[{"count":11,"href":"http:\/\/yakparpem.org\/cms\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/189\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":207,"href":"http:\/\/yakparpem.org\/cms\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/189\/revisions\/207"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/yakparpem.org\/cms\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/197"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/yakparpem.org\/cms\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=189"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/yakparpem.org\/cms\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=189"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/yakparpem.org\/cms\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=189"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}